ouch.. otak berkarat! heal me..

“Bidayah wa nihayah-nya udah sampe mana Put?” tanya seorang teman. Beberapa waktu lalu, kami sama – sama mendownload Ebook ini dan sering berbagi cerita mengenainya.

Saya tersentak. Agak malu mengungkapkannya. Tapi akhirnya saya menjawab juga, “Belum sampe mana – mana, Am. Belum dibaca lagi.”

Padahal dengan speed saya dalam membaca, seharusnya ebook luar biasa ini bisa saya selesaikan dalam waktu 1 hari (untuk mendapat main idea) dan 2 hari (jika ingin saya mengingat small details). Sesibuk itukah saya dengan tulisan – tulisan lain sehingga mengabaikan sebagian kecil dari diri ini yang haus akan pengetahuan agama?

Kali lain, teman yang sama bertanya lagi. Kali ini mengenai curhat saya yang penasaran dengan penampilan fisik Fathimah AzZahra RA. Semua itu dikarenakan dalam bidayah wa nihayah, penampilan fisik Ali bin Abi Thalib saja diungkapkan. Masa tidak ada satu buku pun yang menceritakan mengenai seperti apa wanita pilihan ini?

Saya, agak kalap karena rasa penasaran, membongkar ganas laci buku. Puluhan buku disana terobrak abrik. Demi mencari apakah saya telah membeli buku mengenai Fathimah, ataukah saya perlu menyerbu toko buku hari itu juga. Dan, disanalah teronggok dua buah buku. Keduanya berjudul Fathimah. Baru saya teringat, saya menelantarkan keduanya sebelum selesai membaca. Alasannya? Tidak menemukan apa yang saya cari.

“Dua buku itu ceritain apa aja?” tanya teman saya.

Saya makin merasa disindir halus. Iya Put, menceritakan apa? Masa bolak balik ke toko buku setiap bulan, otakmu masih kosong juga? Masa rasa penasaran dengan agamamu tidak ada dampaknya sama sekali? Kamu masih saja terbuai dalam fiksi karyamu!

Ada 24 jam dalam sehari. Dan saya telah membaginya dengan tidak adil. Sangat tidak adil. Saya lupa bahwa saya harus mengenal Islam jauh lebih banyak dari siapapun yang pernah saya kenal (ambisi pribadi). Saya lupa bahwa bukan hanya fiksi norak yang akan saya rangkai, melainkan juga sebuah buku yang memperbaiki nama Islam di dunia barat (impian). Saya juga telah melupakan keharusan untuk membaca banyak buku demi menuntaskan penelitian pribadi atas sejarah Islam.

Teman saya, dengan sangat sopan, menyentak kesadaran saya. Tapi itu belum seberapa ketimbang apa yang saya alami dua jam lalu.

Di depan rumah, ada dua orang pedagang nasi goreng. Mereka menyewa sebagian tempat dari rumah tetangga. Nasi goreng yang mereka jual tidak terlalu laku. Tapi kehidupan mereka menjadi sasaran empuk bagi saya yang suka mengamati. Empat waktu shalat mereka habiskan di Masjid, tidak perduli apakah pelanggan sedang ramai atau tidak. Kalaupun mereka sangat sibuk, bergantian keduanya mengejar jamaah. Hari ini si A, besok si B.

Tadi saya sempatkan mampir kesana. Sepi keadaannya ketika saya datang. Dan mereka berdua.. sedang MEMBACA BUKU. Ditutupnya buku yang mereka baca dan melayani saya. Sesekali mereka menyahut salam yang diucapkan oleh kenalan yang lewat. Salam yang lengkap, bukan hanya sekedar ‘Hai’ atau ‘Hoy’ seperti kebiasaan saya.

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh!” lengkap, lancar, sambil tetap konsentrasi menggoreng nasi.

Pandangan saya berkeliling di lapak mereka. Menemukan apa yang membuat saya malu, pada ALLAH, pada diri saya, juga pada mereka.

Kedua pedagang nasi goreng ini mempunyai perpustakaan kecil! Buku – buku yang dikoleksi tidak kalah dengan punya saya. Yang lebih menakjubkan lagi, mereka mempunyai waktu untuk membacanya.

Berapa sih keuntungan pedagang nasi goreng? Tidak seberapa rasanya, meskipun mereka berdua telah memiliki tempat sendiri. Dengan melihat fakta banyaknya waktu luang saya yang tersisa, ALLAH masih melimpahkan rizki yang lebih banyak kepada saya. Ditambah, mungkin mereka memiliki kewajiban untuk mengirim uang ke kampung. Namun dengan segala keterbatasan, kedua pria ini masih punya waktu untuk membeli dan membaca buku – buku islami.

Saya punya lebih banyak buku yang jauh lebih berkualitas dan lebih mahal daripada apa yang mereka punya. Waktu luang saya masih banyak kosong. Tapi keinginan untuk membaca.. untuk mendalami.. untuk lebih mendekatkan diri.. itu masih kalah jauh dibanding mereka! Dan hamba malu, ya ALLAH.. Malu karena ketidak-konsistenan dalam menuntut ilmu seperti anjuran Rasulullah SAW, malu karena beberapa hari terakhir sangat bergantung pada buku fiksi.. Sampai kapan saya mau lengah seperti ini? Mengoleksi banyak DVD yang tidak ada gunanya di kehidupan nanti..

Ayo Put.. Keluar dari tempurung malas! Terbang dari rawa kebodohan! Saatnya kamu mengejar ambisimu lagi! Saatnya kamu mengejar kebaikan dari Rabb-mu dengan memahami agamamu! Ambil parang ilmu ini Put.. It’s time for you untuk menebas egoisme kyai2 sesat di lingkunganmu! Akan ada waktunya nanti, dimana kamu akan menghadapi mereka, sejajar duduk bersama, saling berpendapat dan tidak tergoyahkan. Bukankah ini tujuan kamu? Jangan lengah.. Karna mungkin minggu depan mereka datang dan membodohi banyak orang..

PS : Setelah menulis ini, ternyata saya belum kapok mengkoleksi buku juga.. Ada yang mau datang ke Islamic Book Fair? Sudah lama tidak memuaskan dahaga..🙂

12 Comments »

  1. idham said

    emang kadang kadang malas adlah musuh yg susah ditaklukan, apalagi klo ga ada temen yg ngingetin…

  2. jiwakelana said

    Umar Ibnu Khathab brkata “waktu itu adalah pedang”, jgn prnah lengah trhadap wktu. Kita pnya wktu luang atau tdk hnya kita yg bs tntukan itu. Dan ktika ada pluang jgn prnah menyia2kannya kalo qm tdk ingn hlg ksmpatan. Ah coment ku ngawur ya..

  3. nameeman said

    wah,,,kacau nie,,,,

  4. nameeman said

    malas itu hrus d balas,,,,,

  5. Gusti Dana said

    Yang sabar mbak Putri…:-).Orang sabar disayang Allah..:-)

  6. AgamKelana said

    Kok bisa ya…dicuci dong pakek apa gityu

  7. AgamKelana said

    Mau dong ebook nya…gratis kan

  8. AgamKelana said

    salam kenal dari anak Aceh ya

  9. Queen said

    Haluu……

    Queen disini…
    Thanks ya dah mampir ke Queen, Link balik ya…

  10. senoaji said

    dulu aku pernah punya temen seperti kamu, buset kegemarannya membaca aku akui luar biasa, dan ada pada suatu aku tanyakan resepnya kok bisa betah dengan buku apapun dan lahap banget, kelihatannya. “dia bilang aku haus kawan, dan selalu haus…” lalu kutanyakan, apa yang bisa kamu perbuat setelah melahap habis buku itu, dia menjawab, “ilmu aku ingin merengkuh ilmu apapun, pengetahuan apapun…”, lalu ku timpali, “untuk rasa penasaranmu atau untuk bisa kamu bagikan?”. ku lanjutkan “karena setahuku seorang pram dipulau buru, wlaopun dengan keterbatasannya memperoleh informasi dari dunia di luar penjaranya, dia berusaha membagikannya dengan bertutur setiap ada kesempatan…apakah kamu akan seperti itu?”

  11. wah put….kamu termasuk orang yang kutu buku juga ?? hehehe,
    ayo put, langkah awal eamng berat, namanya juga langkah awal kan. tapi, ntar lama-lama setelah kamu maksain diri buat mbaca -mbaca buku berkulitas juga akan jadi kebiasaan dan kamu bisa enjoy melakukan aktipitas itu. Yang perlu kamu pertahanin setelah itu, mempertahankan kebiasaan positif itu. menjaga kebiasaan positif lebih susah dari pada menjaga kebiasaan negatif put. tapi, aku yakin kamu bisa put ….ayo..chayo !!! ^^v…

  12. milham said

    saya tidak bermaksud apa2… zumpah.. ane sumpah🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: