di KTP: ISLAM

Beberapa hari lalu, seorang teman lama meng-update statusnya di Facebook. Isinya kira – kira keluhannya kenapa dia diprotes [atau diomeli? :)] oleh seseorang hanya karena menulis penjelasan di KTP: Islam dalam kolom Agama di Facebook-nya.

Dan saya pun mulai bertanya – tanya.. What’s wrong with that? Bukan kenapa teman saya menulis penjelasan yang nyentrik gitu. Melainkan, kenapa harus diprotes?

Tanpa mendeskripsikan apa itu di KTP: Islam, tentunya setiap mata yang membaca diary ini mengerti apa yang saya maksud. Orang Islam tapi kok nggak sholat dan puasa? Orang Islam kok masih keluar masuk pub? Katanya santri tapi kok goyang sana sini? Dibilang Kyai [juga dihormati, pernah jadi presiden lagi! :)] eh malah menghalalkan aurat?

Pemikiran saya pun berlanjut pada kesimpulan membingungkan: “Lalu apa salahnya jika dia menulis bahwa agamanya ISLAM KTP?”

Saya, kamu, dan mungkin banyak lagi diantara kita telah lahir dengan agama ini. Dari kecil dibimbing ke Ustadz, dipaksa mempelajari iqra’, dituntun supaya bisa khatam Al-Qur’an [supaya bisa dipamerkan]. Konsekuensi kalau membangkang? Cubitan, jeweran, pukulan, syukur – syukur kalau hanya makian.

Semua hal tersebut membuat agama ini nyaru sebagai tradisi. Melekat secara paksa terhadap diri kita sejak lahir, tanpa memberikan secuil pun kesempatan bagi [kebanyakan] kita untuk merunut lebih dalam.. Apa itu Islam? Kenapa saya harus menyembah ALLAH Swt? Kenapa harus 5 kali sehari? Kenapa puasa? Kenapa harus Qur’an dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti? Atau bahkan pertanyaan paling umum.. “Dimana ALLAH tinggal?”

Pertanyaan terakhir seringkali saya dengar dari mulut anak kecil. Jawaban Ibunya: “Diatas.” Jah! Diatas? Saya melongok keatas. Hanya ada atap. Dua tiga ekor cicak. Sejumput sarang laba – laba di pojok. Lalu dimana ALLAH? Tuhan yang disembah si Ibu ini 5 kali sehari? Di sebelah mananya?

Nggak heran kan kalau anak – anak seperti ini, meskipun menambah jumlah umat Islam di Indonesia, tidak mengenal siapa ALLAH Swt dan selebor dalam beragama? Siapa yang harus disalahkan jika setelah besar, anak – anak ini lebih percaya ramalan ketimbang janji ALLAH? Dan siapa yang akan mengambil tanggung jawab ketika mereka ikut memaksakan agama ini secara turun temurun dengan ancaman pengusiran, kehilangan hak waris, atau bahkan pembunuhan kepada keturunan mereka nantinya?

Untuk temennya temenku:

“Dear.. ISLAM KTP itu realita.. Nggak usah diomelin, diprotes, apalagi dicaci! Life is a matter of choice, and he has chosen! Lo ga punya hak buat gerendengan ke dia! So why dont you ask him to learn more ’bout Islam?”

5 Comments »

  1. riyansleman said

    Mau islam asli apa KTP yang penting Islam aja

    PUTRI said:
    dipertanyakan..🙂

  2. milham said

    islam ktp ya….
    setau saya sih imej islam ktp tuh buruk…

    Tapi kalo ada orang yang kayak gitu, harusnya lebih didekati. PErsuasif men!

    dIa ngaku sebagai islam KTP bisa karena 2 sebab:
    1. dia ngaku uda salah, dan sebentar lagi ingin perbaiki diri

    2. dia bangga dengan ke-islaman KTPnya (hm… kira2 temenmu orang yang mana?)

    PUTRI said:
    “dIa ngaku sebagai islam KTP” <== berarti banyak yg ga ngaku kan Am? Karna banyakan orang ngumpet2 makan di warteg tiap bulan puasa, banyak pelacur berKTP Islam, banyak koruptor ISLAM pula.. Apa salahnya dengan mengakui hal itu? Terlepas dari buruk enggaknya image yg ditimbulkan..🙂

  3. hehehe..soalnya buat saya sendiri apa pun agamanya, sebenarnya agama cuma sebuah ilusi hasil ciptaan manusia untuk mengatasi kebodohan sesaat yang mereka rasakan jadi tidak perlu dianggap sebagai tuhan itu sendiri…

    agama hanya sarana, biarkan masing2 orang memilih sarananya sendiri untuk menjadikan diri mereka lebih baik

    semoga semua mahkluk berbahagia

    PUTRI said:
    I’ll link ur beautiful posts yak.. so everyone yg baca comment ini could understand ur thinking..

  4. Herman S.Y said

    Orang yg ber-KTP islam namun ga pernah (khusus sholat ), bisa jadi ilmu pengetahuan ttg islamnya kuat. Atau bisa jadi hanya sekedar memegang tiket untuk masuk surga (untuk agama islam) coz terlalu disibukin dengan urusan menyambung hidup. Atau MALEZZZ.

    Trus gua ga setuju dengan komentarnya @dunianyawira, “sebenarnya agama cuma sebuah ilusi hasil ciptaan manusia untuk mengatasi kebodohan sesaat yang mereka rasakan jadi tidak perlu dianggap sebagai tuhan itu sendiri…

    Agama bkn sebuah ilusi hasil ciptaan manusia, agama Islam, Kristen, Yahudi semuanya dari Sang Pencipta Dan Sang Pemilik Alam Semesta yaitu Allah SWT. Yang merupakan sebuah ilusi itu adalah kalau agama tersebut diutak-atik, ya seperti contohnya agama kristen dan yahudi.

    …untuk mengatasi kebodohan sesaat yang mereka rasakan jadi tidak perlu dianggap sebagai tuhan itu sendiri…

    Sejak kapan agama dibilang Tuhan. kristen tidak pernah mengakui kalau agamanya adalah tuhan. Sama dengan yahudi. Apalagi Islam. Agama itu adalah ilmu yg menjelaskan ttg siapa Sang Pencipta Kita dan lain sebagainya yang mencakup ttg kehidupan.
    Jadi kalau masih BODOH untuk berkomentar ttg agama jangan sok tau ttg ilmu agama.

    PUTRI said:
    maaf.. terpaksa saya klarifikasi disini.. Wira berkomentar dengan sudut pandang seorang atheis, jadi kita sama sekali tidak berhak mencerca pandangan seseorang mengenai apa yang tidak dipercayainya.. Namun justru dari seorang atheis inilah, saya makin mencintai Rabb dan agama saya.. saya semakin berusaha keras untuk menjadi hamba pilihan.. karna pandangan2nya begitu luas dan damai, nggak keras dan menjatuhkan.. beragama adalah untuk menemukan kedamaian.. jadi ketika banyak pemeluk agama saling mencela, saya berusaha untuk mencari titik terang mengenai esensi memiliki Rabb untuk disembah.. dan saya mendapatkannya dari sahabat yang merupakan seorang atheis..

  5. Herman S.Y said

    “Saya tau kalau @wira seorang atheis, coz sudah terlihat dari pola fikir tulisan dia.”

    Ehm.. disini mungkin saya juga ingin klarifikasi:

    tentang komentar saya sblmnya yaitu “Agama bkn sebuah ilusi…“, itu pernyataan yang sama sekali tidak ada niat untuk mencerca. Disitu saya hanya ingin menjelaskan (secara halus).

    Trus untuk pernyataan “Jadi kalau masih BODOH untuk berkomentar ttg agama jangan sok tau ttg ilmu agama.
    Melihat dari komentar balik dari Putri, saya sedikit kaget. Pola fikir Putri benar2 luar biasa (*maaf disini saya bkn bermaksud u memuji atau bahkan menyanjung”).

    Terdiam saya langsung menyadari, kata2 tsb mungkin secara tidak sengaja menyakiti hati wira. (Padahal niat saya itu ingin menjelaskan secara santun/bukan mencerca). Mungkin saya terlalu sensy dikarenakan pernyataan wira bahwa agama adalah buatan manusia. Disini hati saya langsung tergerak untuk membela agama saya yaitu Islam. Jadi yg sebelumnya niat saya santun berubah menjadi sedikit mencerca. Sekali lg saya minta maaf yg sebesar-besarnya. Saya hanya orang yg tolabul ilm.
    Saya tersadar dan khilaf, dalam firman Allah dlm Al Quran:
    berdakwalah ke jalan Allah Tuhan mu dengan jalan hikmah, nasehat yang baik (mau’idzotil hasanah)!” Jangan kita menggembor-gemborkan kesalahan itu, lalu menyebarluaskannya. Tapi dengan nasehat yang baik.

    Thanx ya Putri atas masukannya…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: