Di Belakang Punggung Bapak

Setiap Senin dan Rabu, dimana aku diharuskan pulang malam dari kewajiban mencari nafkah [baca:mengajar], Bapak-lah yang menjemput. Bukan doyan ngerepotin, tapi tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong. Selain karena sudah nggak ada angkot, tidak ada lagi lelaki mahram Putri yang bisa menjemput.

Pertama kali Bapak menjemputku malam hari, kami kehujanan. Bapak memakaikan jas hujan padaku. Bukan jas hujan terpisah. Aku hanya diselubungi dalam jas hujan, merunduk di belakangnya. Saat – saat seperti itu membawa memoriku kembali ke beberapa tahun lalu. Dalam jas hujan yang sama, aku yang masih mengenakan seragam merah putih terselubung dengan aman. Tidak ada setetes air hujan pun yang mampu membasahi tubuhku. Bapak, yang saat itu masih 30-an, berhasil melindungi putrinya.

Tapi malam itu.. Jas hujan yang sama tidak mampu melindungi sebagian besar tubuhku. Aku merunduk dan memegang pinggang bapak. Penasaran akan keadaan di luar, kusingkap jas hujan.. Sekedar untuk merasakan tetesan air langit Jakarta. Saat itu, aku melihat Bapak. Jas hujan ini tidak memiliki penutup kepala. Beliau kebasahan. Hanya sebuah topi kecil yang melindungi kepalanya. Itupun masih bisa ditembus air hujan.

Hujan semakin deras, malah disertai angin. Bapak menyuruhku untuk menyelubungi diri dalam jas hujan. Aku menolak. Aku hanya ingin merasakan sedikit pengorbanannya untukku malam itu. Dari mulai menahan ngantuk untuk menungguku pulang, mengirim sms berkali – kali untuk menanyakan keberadaan, sampai akhirnya kehujanan seperti ini.

“Bapak, besok Put pulang sendiri aja deh..” kataku.

“Nggak usah! Bapak jemput aja!”

Bapak. Usianya sudah 45 tahun [Januari nanti]. Terhitung telah seperempat abad lebih Beliau mulai mengambil tanggung jawab besar dengan merantau ke Jakarta, dan menjadi kepala keluarga di usia yang masih muda. Bapak tidak pernah mengeluh letih, kecuali untuk memecut kami [anak – anaknya] supaya berusaha dengan keras. Dia tidak pernah membiarkan kami menjalani hidup dengan bersantai. Hidup itu keras, begitu yang selalu diingatkan Bapak.

Bapak adalah guru hidup. Contoh mulia.

Hingga sore tadi…

“Put lagi dimana?”

“Giant Sunter.”

“Bapak nitip Diabetasol dong..”

“Iya, udah dibeliin.”

“Bukan buat mbah.. tapi buat Bapak.”

“Lho? Koq Bapak minum Diabetasol?”

Bapak pun menjelaskan hasil diagnosa Dokter di pengobatan murah di RT kami tadi pagi. Dokter bilang, Bapak kena gula. Kadar gulanya 400, padahal batas normal 180. Mungkin itu yang menyebabkan gangguan menyerupai katarak pada mata Bapak beberapa tahun belakangan.

Menyadari kondisinya, Bapak pun memahami dengan berniat mengurangi konsumsi karbohidrat dan gula (pastinya). Beliau pun bertekad hanya makan sekali (sesuai anjuran Dokter). Selain itu, tekad kuatnya juga disematkan pada kebiasaan mengonsumsi MILO. Padahal, Milo adalah minuman kesukaannya.

“Bapak mau makan sekali sehari aja.. Ga bisa minum Milo deh..” katanya dengan wajah kecewa.

Ya ALLAH.. miris rasanya mendengar kata – kata itu. Bapak nggak pernah meminta banyak dariku, bahkan sejak aku mulai mampu mencari uang sendiri. Beliau memiliki segalanya, yang bahkan belum mampu kumiliki.

“Nanti kalau udah kerja, jangan lupa ya.. Bapak mah cuma minta dibeliin Milo sama tongseng aja.. Hehehehe..” pesannya.

Kedua hal itu nggak bisa lagi aku penuhi sekarang. Paling tidak, harus dibatasi. Mungkin secara sederhana bisa disimpulkan, salah satu tujuan hidupku adalah memenuhi kedua hal itu pada Bapak. Tapi sekarang, disaat semuanya mungkin, Bapak nggak bisa lagi terpuaskan olehnya..

ALLAH ArRahman.. Titip Bapak, salah satu manusia hebat yang Engkau amanahkan untuk menjagaku. Panjangkanlah umurnya, jadikan setiap detik dalam hidupnya berharga dan penuh amal baik.. Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo..

 

1 Comment »

  1. Bapak saya juga kena diabetes😀

    Tapi beliau sih orannya tegar…. (sangat tegar sekali)

    sampe-sampe dia bilang:
    “penyakit itu jangan ituruti banget, nanti jadi manja!”

    Dengan izin Allah beliau masih sehat sampe sekarang!

    Saya pun seirng di bonceng sama bapak waktu Sd-SMP.

    Seru banget! Walaupun sempat merasa berdosa! karena.. akrena (gak mau cerita ah..😦 )

    Tapi taun lalu, saya yang bawa bapak saya (say yang ngeboncengin😀 )….
    Ah, itu saat-saat terindah. Bisa membalas jasa beliau sedikit saja🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: